Kegiatan Pembinaan Jabatan Fungsional Pengantar Kerja

 

Sub Direktorat Pemberdayaan Pengantar Kerja, Direktorat Penempatan Tenaga Kerja Dalam Negeri, Ditjen Binapenta dan PKK, telah menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Jabatan Fungsional Pengantar Kerja dari tanggal 28 Februari -2 Maret 2018 selama 3 (tiga) hari di Hotel Olympic Renotel, Sentul. Peserta kegiatan ini adalah perwakilan dari pejabat fungsional Pengantar Kerja  di wilayah Pusat, Dinas yang membidangi ketenagkerjaan Provinsi maupun Kabupaten/Kota sejumlah 30 (tiga puluh) orang. Kegiatan ini dilakukan sebagai upaya peningkatan kualitas dan peran dari Pengantar Kerja di Indonesia. Kegiatan Pembinaan Jabatan Fungsional Pengantar Kerja bertujuan untuk:

  • Meningkatkan peran , kapabilitas dan eksistensi Pengantar Kerja melalui peningkatan kapasitas (capacity building) SDM di bidang pelayanan penempatan;
  • Peningkatan motivasi kerja serta kemampuan interpersonal Pengantar Kerja dalam melaksanakan pelayanan penempatan;
  • Bertukar pikiran/pandangan serta pengalaman di lapangan terkait pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Pengantar Kerja.

Sebagai aparatur pemerintah yang memiliki tugas pokok dan fungsi melaksanakan fungsi antar kerja, pejabat fungsional Pengantar Kerja Kerja merupakan ujung tombak pelayanan penempatan tenaga kerja, memiliki peran strategis dan vital dalam fasilitasi penempatan tenaga kerja (Employment Placement Service/EPS). Terlebih adanya target capaian nasional penempatan tenaga kerja sebanyak 10 juta penempatan untuk tahun 2014-2019 atau 2 juta pertahun. Pejabat fungsional Pengantar Kerja memiliki peran sebagai perantara atau penghubung untuk mempertemukan antara pencari kerja dengan pengguna tenaga kerja.

 

Dalam melaksanakan tugas dan fungsinya Pengantar Kerja selain dihadapkan pada tantangan global seperti yang telah disebutkan diatas, juga menghadapi tantangan dari internal organisasi dan diri sendiri. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas dan peran dari pejabat fungsional Pengantar Kerja menjadi prioritas yang harus dilakukan sebagai upaya revitaliasasi peran dan fungsi Pengantar Kerja

 

Terkait dengan peningkatan kapasitas SDM pejabat fungsional Pengantar Kerja, masih terdapat hambatan-hambatan baik yang bersifat intrinsik sepeti demotivasi, mental blocking, negative mindset (pola pikir negatif) terkait dengan kurang dihargainya eksistensi dari Pengantar Kerja itu sendri. Sedangkan secara ekstrinsik, faktor-faktor pembedaan perlakuan dari pejabat struktural, digitalisasi dan modernisasi serta masih belum adanya pengakuan secara penuh terhadap peran Pengantar Kerja khususnya di daerah, membuat munculnya kesenjangan (gap) peran diantara fungsional lainnya yang berpengaruh terhadap kredibilitas dan performasi dari Pengantar Kerja.

 

Hal ini menjadi persoalan yang harus diatasi karena dengan kurangnya kompetensi dan interpersonal skill yang harus dimiliki oleh Pengantar Kerja sebagai lini terdepan (frontliner) dalam pelayanan penempatan sebagai unsur utama yang harus dimiliki. Hal-hal yang perlu dikembangkan terkait dengan penguatan kemampuan komunikasi interpersonal dan pengembangan kepribadian  (communication interpersonal skill and personality development) sebagai dasar utama dalam efektivitas pelayanan. Teamwork building (kerjasama tim) juga menjadi hal yang harus ditingkatkan sebagai upaya penyamaan persepsi, peningkatan peran dan motivasi kerja serta perubahan pola pikir (negative midset) dimana Pengantar Kerja merupakan agent of change (agen perubahan) dalam pelayanan penempatan tenaga kerja.  Selain itu, teknik-teknik pelayanan prima (service excellent) juga menjadi dasar utama yang harus dikuatkan sebagai salah satu aspek peningkatan kualitas pelayanan yang diberikan oleh Pengantar Kerja. Sehingga dengan pelayanan yang tepat, efektif dan efisien ini akan menjadikan SDM pejabat fungsional Pengantar Kerja sebagai aparatur negara yang memiliki integritas, kompeten dan loyalitas dalam memberikan pelayanan penempatan tenaga kerja.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *